top of page

Kisah Perjuangan Diaz: Langkah Awal Atlet SMA Islam Al Azhar 33 di O2SN

  • Gambar penulis: marketing yapi
    marketing yapi
  • 13 jam yang lalu
  • 2 menit membaca

Dokumentasi Atlet O2SN SMA Islam Al Azhar 33
Dokumentasi Atlet O2SN SMA Islam Al Azhar 33


BEKASI – Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat SMA Se-Kota Bekasi yang digelar pada 13 Mei 2026 menjadi saksi sejarah baru bagi SMA Islam Al Azhar 33 Jatimakmur. Untuk pertama kalinya, sekolah ini mengirimkan delegasi atletnya untuk berlaga di ajang olahraga bergengsi tersebut. Di antara lima pelajar yang diutus, nama Diaz Athallah Sahih menjadi sorotan di cabang olahraga renang.



Dedikasi di Balik Kolam Renang


Bagi Diaz, seorang murid kelas 10, kesempatan mewakili sekolah bukan datang begitu saja. Ia telah melewati fase "penempaan diri" yang sangat intensif. Jadwal latihannya tergolong berat bagi seorang pelajar, yaitu Selasa, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu.

"Jujur itu sangat capek karena latihannya setelah pulang sekolah dan harus bangun pagi-pagi kalau hari libur," ungkap Diaz. Tak tanggung-tanggung, ia mengombinasikan arahan dari pelatih sekolah dengan private trainerĀ guna memastikan teknik dan fisiknya siap tempur.

Baginya, kompetisi bukan sekadar adu otot. Ia sangat menekankan pentingnya kepercayaan diri sebagai latihan mental utama. "Jika saya tidak percaya dengan diri saya, saya bisa grogi dan fokus saya terpecah ke orang lain, bukan ke perlombaan," tambahnya.


Ujian Tak Terduga dan Kedewasaan Bersikap


Namun, realita di lapangan terkadang tidak berjalan sesuai dengan rencana. Di tengah perlombaan yang sengit, Diaz mengalami kendala medis berupa kram pada badannya yang memaksanya harus gugur lebih awal. Masalah ini dipicu oleh kendala teknis. Ia tiba di lokasi lomba dengan waktu yang sangat sempit sehingga tidak sempat melakukan pemanasan di dalam air.

Meski harus menelan pil pahit kekalahan di tahun pertamanya, Diaz tidak menunjukkan raut putus asa. Ia justru menunjukkan kematangan emosional yang melampaui usianya. Hal ini selaras dengan pesan Diaz bagi para peserta O2SN, bahwa menang atau kalah adalah hal biasa. Pengalaman belajar adalah poin positif yang sesungguhnya.


Pesan untuk Masa Depan: Etika dan Mentalitas


Alih-alih merasa gagal, Diaz justru merasa bangga telah menjadi pionir di ajang O2SN SMA Islam Al Azhar 33. Ia bahkan sudah memasang target untuk tahun depan dengan persiapan yang jauh lebih matang. "Saya ingin membuktikan bahwa saya layak terpilih oleh sekolah. Saya akan berlatih lebih keras dan melakukan perbaikan di segala sisi," tegasnya dengan penuh keyakinan.

Kepada rekan-rekan atlet lainnya, Diaz menitipkan pesan bermakna tentang cara menghadapi dinamika kompetisi. Menurutnya, menjadi atlet yang hebat harus sepaket dengan etika yang baik. Ia menekankan pentingnya mengabaikan komentar negatif dari luar dan tetap fokus pada tujuan pribadi.

"Pesan saya untuk atlet, jangan lupa rutin latihan dan never give up. Belajarlah etika berkompetisi, cara menerima kekalahan, dan cara meraih kemenangan tanpa merendahkan orang lain. Keep your head in the game," tutup Diaz.

Kisah Diaz di O2SN 2026 ini menjadi pengingat bagi seluruh siswa bahwa prestasi tidak selalu diukur dari medali, melainkan dari seberapa tangguh seseorang bangkit dari kegagalan dan seberapa besar rasa hormat yang ia berikan pada olahraga yang ia cintai.

Penulis: Bhremantyo Ahmad Ganendra dan Rasendriya Arkananta

Komentar


bottom of page